Why Edward Wrote (and why maybe we do, too)

Here’s Edward de Vere, 17th Earl of Oxford.

Suspectedly the real author of Shakespeare’s works. In dialogue with his wife, Anne. Below dialogues were taken from the movie ‘Anonymous’.

Anne                      : (sobs) Why must you write?

Edward de Vere     : The voices, Anne. The voices, I can’t stop them.

They come to me.

When I sleep,  when I wake, when I sup. When I walk down the hall.
The sweet longing of a maiden,
the surging ambitions of a courtier,
the designs of a murderer,
the pleas of his victims.

Only when I put their words, their voices, into parchment, are they cast loose, freed.

Only then my mind is quieted. At peace.

I would go mad if I didn’t write down the voices.

“Are you… possessed?”

“Maybe I am.”

Surat Cinta untuk Dirimu Yang Peduli #GELASMABA

Peringatan: Meskipun tulisan ini banyak mengabuse kata ‘sayang’, bersifat hiperbolik, terkesan bid’ah, tapi tidak sekali-kali tulisan ini dimaksudkan untuk sarkastik. Intensi dari penulis, tidak lain, adalah agar tulisan ini tidak terkesan seperti balasan surat pembaca yang berbau korporat, dan tidak kaku seperti kuku kaki kakakku.

Hai sayang,

Ijinkan saya untuk mengurai gugatanmu menjadi dua poin mayor yang akan saya tanggapi secara terpisah: mengenai 1) rekomendasi yang hanya berdasarkan asumsi, dan 2) apa gunanya #GELASMABA.

Mungkin ada baiknya saya terlebih dahulu memberikan uraian singkat mengenai situasi yang menelurkan wacana pertama kamu yang menohok jiwa itu. Semata-mata, demi memberikan pencerdasan buat mereka selain kita yang belum tahu duduk perkaranya. Tidak boleh itu kita egois dan bertikai sinis. Sabar ya, sayang.

(Catatan: Untuk mencegah kebertele-telean, bagian ini silakan di-skip saja JIKA kamu sudah merasa paham betul kronologinya)

——————————–

Begini, pemirsa.

Konon ada sebuah akun twitter bernama @GELASMABA2012, akun eventual terkait dengan akan diadakannya sebuah event kesenian tingkat fakultas di sebuah universitas pada bulan Desember nanti.
Konon katanya saya bertanggung jawab sebagai koordinator publikasi dari event ini.
Konon sebagai bagian dari publikasi dan promosi, saya diharuskan untuk mengatur konten tweet dari akun yg berkaitan.

…Ternyata semua konon yang disebutkan itu memang demikian adanya (ha ha).
(lalu terdengar suara jangkrik)

Saya memang membuatkan editorial plan (baca: rancangan topik dan konten yg harus di-tweet) dari akun @GELASMABA2012. Dan untuk Jumat-Sabtu kemarin, konten yg saya berikan memang bertemakan #nongkrongasik, berisikan rekomendasi tempat-tempat nongkrong tidak biasa yang pernah saya datangi, yang ditujukan untuk mereka yang—sama seperti saya—bosan kalau disuruh menghabiskan waktu di mall dan mall lagi.

Satu hal yang sebenarnya sama sekali tidak krusial namun ternyata menjelma menjadi akar permasalahan adalah bahwa yg memegang akun @GELASMABA2012 bukanlah saya sendiri, melainkan seorang teman yg saya mintai tolong untuk membantu mengaktifkan akun tsb.

Singkatnya: saya melempar konten, teman saya yg mengeksekusi konten tsb dalam bentuk tweets.Sampai sini jelas ya, mas mbak?

Pembagian tugas ini tidak menjadi suatu hambatan yg berarti,
sampai kemarin mas Deden iseng menyentil dengan reply:

‘Adminnya sendiri sudah pernah ke sana belum?’

terkait twit rekomendasi ke Kineforum.

Teman saya, yang teman Deden juga, yang menjadi admin akun tsb, rupanya semacam panik. Dia sendiri ternyata belum pernah ke Kineforum, dan lantas mengklarifikasi hal tsb via sms ke Deden. Namun, kontradiktif dengan apa yg dia katakan via sms, melalui akun tersebut dia me-reply twit Deden dengan ‘Sudah dong 🙂’.

——————————–

Kalau saya tidak salah, keberatan kamu terletak di poin ‘memberikan rekomendasi hanya dengan berlandaskan asumsi’, betul?

(Sayang sekali kita tidak sedang berada di pengadilan. Aku bukan pengacara dan kamu bukan tersangka yang tengah berdiri di mimbar, dengan segala kuasa untuk menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’. Maaf sekali kini argumenku harus dilandaskan asumsi, sesuatu yang kurasa kini kamu benci.)

Saya asumsikan kamu jawab ‘ya’.

Lalu pertanyaan selanjutnya yang kugulirkan adalah: siapa yang kamu maksud dengan ‘mereka’, yang kamu gugat dalam tulisanmu?

“…tetapi sejak pra event dan untuk hal kecil saja seperti membuat rekomendasi tempat menarik, mereka melakukannya hanya berdasarkan asumsi.”

Saya mensinyalir adanya fallacy dalam argumenmu, sayang.
Kamu menggunakan predikat individual –> (‘seorang admin yang tidak pernah ke Kineforum’)
untuk membentuk sebuah predikat komunal –> (‘mereka’ a.k.a. panitia GELASMABA yang tidak pernah ke Kineforum).

[Tersanjunglah, karena barusan aku rela mengubek-ngubek catatan dari kelas Logika cuma demi memastikan apakah benar ada fallacy jenis ini.]

Penarikan konklusi dengan pola demikian terhitung sesat pikir karena…
…memang tidak adil dan tidak etis, dong, sayang.
Masakan iya dosa seseorang naik pangkat jadi dosa bersama?
Memangnya kita Adam dan Hawa?
Yang bikin dosa pertama?
Karena nila setitik rusak susu sebelanga?
Eits tapi bukan berarti saya cuci tangan, ya.
Toh saya, selaku pemberi informasi, tidak memberikan informasi hanya berdasarkan asumsi. Saya, selaku pemberi informasi, mampu mempertanggungjawabkan apa yang saya rekomendasikan. Kontra dong ya sama gugatan kamu? Jadi boleh dong ya saya anggap gugatan kamu lantas terbantahkan?

Sedangkan admin saya, yang juga teman kita bersama?

“Ya Bapa, ampunilah mereka (dia), sebab mereka (dia) tidak tahu apa yang mereka (dia) perbuat.” – Lukas 23:34 (dengan gubahan)

Kelar ya perkara?

Tapi bagaimana kalau kita lanjutkan dengan perandaian?
Andaikan saya pun memang tidak pernah ke Kineforum. Tidak ada di antara ‘mereka’ (alias kami panitia GELASMABA) yang pernah. Saya merekomendasikan Kineforum hanya dari hasil googling keywords ‘tempat nongkrong asik di Jakarta’, tanpa pernah berada di sana atau melihat tempatnya seperti apa.

JENGJENG.

Lantas bagaimana?

Anehnya, saya pikir itu pun masih tidak apa-apa loh, sayang.
Baik saya dan admin saya masih tidak berdosa.
Sama tidak berdosanya dengan perempuan rumpi yang bicara begini ke temannya yang sama rumpinya:

“Cyin, kafe XYZ itu cucok banget loh katanya buat nongkrong-nongkrong! Banyak lakik bikin gemes demen ngeceng di sana. Cobain yuk cyin kapan-kapan?”

Perempuan rumpi ini tidak pernah berada di sana, atau melihat tempatnya seperti apa. Cuma hasil dengar-dengaran mulut ke mulut. Lantas salahkah dia? Merekomendasikan hanya berdasarkan asumsi yang ditarik dari kumpulan testimoni?

Toh kita hanya berbagi informasi.

Tidak bermaksud membentuk mispersepsi sama sekali.

Makanya, kemarin sebenarnya saya sempat bingung sendiri. Jangan-jangan kamu punya intensi tidak sekadar ini. Tapi yasudah, kita bahas nanti.

Masuk ke pertanyaan kamu tentang esensi dari GELAS MABA.
Kali ini, saya tidak bisa berkomentar banyak. Tidak bisa defensif maupun ofensif karena, percayalah, sesungguhnya saya mempunyai kontemplasi tersendiri terkait hal ini. Kurasa di poin ini kita bisa bertukar opini, tapi tentu tidak di ruang ini, meskipun sejujurnya jemari ini gatal sekali ingin mengetikkan isi hati. Tapi bayangkan saya sebagai humas dari sebuah perusahaan rokok. Memulas dan membuat elok terlepas dari apa yang sesungguhnya saya percayai. Semacam itulah saya di sini.  Terikat kontrak dan komitmen meskipun tidak digaji lebih dari terima kasih.

Demikianlah.

—————————————————————-

Catatan:

Kebingungan saya sudah terjawab terkait ‘intensi yang tidak sekadar ini’ sudah terjawab ketika saya mendengar opini kamu terkait acara ini dari mulut Project Officer GELAS MABA sendiri.

Saya sama sekali tidak mempunyai keberatan atas pendapat yang kamu katakan dan munculkan di bagian terakhir tulisan kamu ini. Namun bagi saya, premis yang kamu jabarkan dari sepanjang kalimat pertama sampai kalimat sebelum terakhir kurang mengandung relevansi akan wacana yang kamu tarik di akhir. Wacana yang muncul di akhir, saya tahu, didasarkan atas pertimbangan lain yang tidak kamu jabarkan di tulisan ini. Dengan kata lain, terjadi gejala jumping conclusion di sini. Tulisan ini pun terkesan hanya sebatas ekskresi emosi dan objeksi, alih-alih menyediakan argumentasi dan alasan untuk memperkuat wacana di akhir.

Sekian kritik saya terkait tulisan kamu sendiri.

Terima kasih, karena wacanamu menstimulus saya untuk menulis lagi dan mencegah kandasnya-blog-baru-viren-di-postingan-pertama, secara balasan ini resmi jadi postingan kedua.

Mengenai wacanamu yang juga jadi bahan kontemplasi saya, bolehlah kapan hari kita berbagi di bawah tangga gedung F.